Sat. Oct 23rd, 2021
Pembelajaran Inklusi di Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 membawa luka bagi kita semua. Dampak dari pandemi ini juga kita rasakan di berbagai aspek kehidupan sehari-hari, tak terkecuali di bidang pendidikan. Perubahan proses belajar-mengajar, yang sebelumnya dilaksanakan secara konvensional (tatap muka), harus beralih menjadi daring. Alhasil, atas perubahan tersebut banyak diantara kita tergagap-gagap menjalani kebiasaan baru, terkhusus untuk proses belajar-mengajar siswa. 

Kata ‘tidak siap’ ini, juga bisa kita dengar dari satuan pendidikan khusus yang diperuntukkan bagi siswa penyandang disabilitas. Pelaksanaan proses belajar-mengajar secara daring, belum mampu diadaptasi dan diimplementasikan secara baik, mengingat kebutuhan siswa yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda.  

Proses Belajar Online Bagi Siswa Penyandang Disabilitas

Proses belajar online memang banyak dikeluhkan oleh siswa, guru, bahkan orang tua. Tidak terkecuali dalam hal ini,  juga dikeluhkan sebagian besar orang tua siswa penyandang disabilitas

Sebelumnya mungkin kita menyadari, pendidikan inklusi yang diperuntukkan siswa penyandang disabilitas belum merata di setiap institusi pendidikan Indonesia. Apalagi saat-saat pandemi covid-19 seperti ini, yang notabennya dilakukan mandiri oleh siswa di rumah masing-masing. 

Banyak kita temui orang tua siswa penyandang disabilitas mengeluhkan, pendidikan anaknya di masa pandemi, khususnya untuk penugasan yang diberikan guru kepada siswa. Yang kita tahu siswa-siswa di Indonesia menjalani pembelajaran secara daring, lebih banyak mengerjakan penugasan dengan ditulis tangan. Penugasan ini pun juga berlaku bagi siswa penyandang disabilitas.

Yang jadi masalah dalam penugasan ini, bagi siswa penyadang disabilitas, tepatnya terletak pada akses tiap-tiap siswa untuk mengerjakan tugas membutuhkan layanan berbeda. Kondisi fisik setiap anak penyandang disabilitas bentuknya berbeda-beda, seharusnya pananganan dan pendekatannya pun juga berbeda pula. Itu yang menjadi titik kekhawatiran para orang tua siswa penyandang disabilitas.

Bagaimanakah Seharusnya Proses Belajar-Mengajar Bagi Siswa Penyandang Disabilitas Dilakukan?

Pastinya pemerintah, melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan, telah melakukan yang terbaik untuk pelayanan belajar siswa penyandang disabilitas. Di universitas-universitas negeri ataupun swasta contohnya, telah banyak kita temui fasilitas publik yang ramah bagi siswa penyandang disabilitas. 

Selain itu, untuk mendukung proses belajar siswa penyandang disabilitas, yang perlu diperhatikan tidak lainnya adalah masalah kurikulum yang belum disesuaikan. Hal ini menjadi titik fokus yang mendasar, karena kurikulum merupakan acuan yang nantinya digunakan oleh guru, untuk melaksanakan proses belajar-mengajar

Penyusunan kurikulum yang sesuai perlu diperhatikan, contohnya dalam memuat materi dan informasi bagi siswa pennyandang disabilitas. Hal itu dirasa perlu, agar tidak salah dalam penyampaian proses pembelajaran. Contohnya yang menjadi masalah saat pembelajaran berlangsung di masa pandemi covid-19 ini, adalah penyampaian materi praktik untuk menaati prokes, yaitu cara mencuci tangan dengan baik dan benar.

Materi itu dirasa tidak sesuai dengan siswa penyandang disabilitas, mengingat kondisi fisik setiap anak berbeda-beda. Pada akhirnya, kurikulum yang semacam itu, jika dipukul secara merata bagi siswa penyandang disabilitas, tidak mencermikan pendidikan secara inklusi, yang sudah menjadi fokus perhatian kita bersama.

Masalah penyebaran virus covid-19 ini menjadi masalah kita bersama, begitu pula masalah pendidikan yang terus-menerus berubah, menyesuaikan situasi serta kondisi saat ini. Oleh karena itu, penanganan yang bijak untuk proses belajar-mengajar, khususnya untuk siswa penyandang disabilitas ini, merupakan tanggung jawab setiap pihak yang terkait, baik itu guru, lingkunagn sosial, dan pastinya orang tua siswa. 

By admin